ABORSI.ORG
:Cintailah Kehidupan:

 



Home | Definisi | Statistik | Alasan | Pelaku | Tindakan 
Contoh | Resiko | Agama & Aborsi | Hukum & Aborsi | Tanya-Jawab | Solusi | Artikel



ARTIKEL 

Mencegah Komplikasi Paska Aborsi

Sekarang Anda telah melakukan aborsi, suatu tindakan yang patut disesali. Lalu, bagaimana kalau timbul komplikasi dari tindakan ini? Apakah Anda siap dan mengetahui secara jelas segala komplikasi yang mungkin timbul dari tindakan pengakhiran hidup janin Anda?

Komplikasi paska aborsi mengintai Anda yang:

  1. Melakukan aborsi pada kehamilan lanjut;
  2. Tidak dalam keadaan sehat saat menjalani aborsi.
  3. Bingung akan pilihan melakukan aborsi, tetapi karena tekanan dan stress berkelanjutan dan tak mau memperpanjang masalah, akhirnya melakukan aborsi.
  4. Punya kasus penyakit kelamin (gonorea/kencing nanah atau infeksi jamur vagina: klamidia).
  5. Tidak diberikan anestesi sama sekali saat tindakan aborsi dilakukan.
  6. Rahimnya tidak benar-benar bersih dari sisa-sisa janin yang digugurkan.
  7. Penolong aborsinya lalai, tidak mengecek dengan seksama hasil keluaran rahim, karena ada kemungkinan kehamilan Anda adalah kehamilan ektopik/molar (biasanya dikenal dengan kehamilan anggur), dan sisa-sisa janin yang tertinggal adalah pangkal komplikasi yang berbahaya.
  8. Mempunyai rhesus negatif. Untuk hal ini, Anda perlu mendapatkan suntikan khusus guna mencegah timbulnya komplikasi.
  9. Tidak menjalani pemeriksaan lanjutan setelah 24 jam menjalani aborsi.

Aborsi seringkali mendatangkan maut. Adanya kasus kematian paska aborsi juga perlu diwaspadai. Umumnya, kasus-kasus ini dikarenakan:

  1. Faktor umur dari wanita yang hendak melakukan aborsi, disamping juga prosedur aborsi yang dipilih dan umur dari janin dalam kandungan.
  2. Faktor kesehatan si wanita. Terkadang, si wanita tidak mengetahui adanya kelainan kesehatan yang diidapnya.
  3. Faktor komplikasi karena anestesi yang digunakan saat aborsi yang menyebabkan terjadinya emboli dalam paru-paru.
  4. Faktor kesalahan penggunaan obat-obatan. Penggunaan Sulprostone (yang mengandung prostaglandin) yang berlebihan dapat menimbulkan serangan jantung.

Jika Anda baru saja melakukan aborsi dan memiliki tanda-tanda berikut ini, Anda perlu segera menemui tenaga medis terdekat, karena mungkin saja komplikasi paska aborsi mengintai Anda:

  1. Demam.
  2. Menggigil.
  3. Sakit sekitar perut, kram atau sakit punggung.
  4. Perut yang terasa lunak saat ditekan.
  5. Pendarahan yang berlebihan, bahkan menjurus mengalir deras.
  6. Pengeluaran vagina yang berbau busuk.
  7. Mengalami penundaan hingga 6 minggu atau lebih untuk mendapatkan siklus menstruasi kembali.

Komplikasi-komplikasi jangka pendek lain yang mungkin Anda hadapi adalah:

  1. Infeksi. Ini dikarenakan ketidaktahuan si wanita akan penyakit yang mungkin diidapnya. Jika si wanita mengidap gonorea, klamidia, atau cervicitis, kemungkinan terkena infeksi paska aborsi adalah sangat besar. Tanda-tanda adanya infeksi antara lain kram perut, demam, pendarahan, dan ketidak-nyamanan disekitar panggul. Jika tanda-tanda ini nyata sekali, Anda harus segera mencari pertolongan. Jika diperkirakan adanya sisa-sisa kehamilan yang masih tertinggal, Anda memerlukan pertolongan medis lanjutan.

  2. Pembekuan darah dalam kandungan. Komplikasi ini biasanya terdeteksi setelah 5 hari aborsi dilakukan. Tanda-tanda komplikasi ini adalah kram dan sakit yang tak kunjung habis. Dengan melakukan pemeriksaan rongga panggul, diketahui bahwa rahim dalam keadaan membesar, tegang tetapi lunak, tanpa disertai pendarahan.

  3. Aborsi yang tidak tuntas. Hal ini mungkin saja terjadi, meskipun aborsi dilakukan di rumah sakit ternama. Dengan evaluasi yang hati-hati setelah aborsi dilakukan, si wanita akan mendapat jawaban atas kesempurnaan aborsinya.

  4. Aborsi yang gagal. Ada kemungkinan, aborsi yang Anda jalani gagal. Ini ditandai dengan terus berlangsungnya kehamilan. Jika ini terjadi, penangan medis yang hati-hati dan kejujuran Anda dituntut, sehingga cacat yang mungkin timbul karena percobaan aborsi dapat dihindari.

  5. Trauma rahim. Karena adanya perobekan rahim dan leher rahim, rahim mengalami trauma. Tergantung dari keseriusannya, penanganan komplikasi ini dapat hanya berupa observasi hingga operasi pengangkatan seluruh rahim. Hal ini banyak terjadi pada aborsi dengan umur janin yang tua.

  6. Pendarahan. Apapun jenis aborsi yang dijalani, pendarahan yang tidak normal sering terjadi. Komplikasi ini berakhir dengan pelaksanaan kuret pada rahim, terkadang, si wanita memerlukan transfusi darah pengganti darah yang hilang.

(Disarikan dari situs Oxygen)



Home | Definisi | Statistik | Alasan | Pelaku | Tindakan  
Contoh | Resiko | Agama & Aborsi | Hukum & Aborsi | Tanya-Jawab | Solusi | Artikel


Content Copyright 2002-2004 Aborsi.Org ~ All Rights Reserved